Aturan yang Harus Ditaati Perusahaan Selama PSBB

PSBB DKI Jakarta fase 2 sudah diberlakukan. Apa saja aturan yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha selama PSBB fase 2 ini berlangsung?

Pemerintah provinsi DKI Jakarta akhirnya tetap kembali memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), yang efektif semenjak 14 September 2020, meskipun keputusan ini menuai pro dan kontra khususnya dari kalangan pengusaha.

 

Memang ada sebelas sektor usaha yang diperbolehkan untuk tetap beroperasi, namun ada beberapa aturan yang harus mereka taati. Aturan yang terkait dengan aktivitas pengusaha  tercantum dalam Peraturan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 88 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Gubernur Nomor 33 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Penanganan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Provinsi DKI Jakarta. 

11 Sektor Usaha yang Diizinkan Beroperasi

Terdapat sebelas sektor usaha esensial yang diizinkan pemerintah untuk tetap beroperasi secara terbatas. Kesebelas sektor usaha esensial tersebut antara lain:

 

1. Kesehatan

2. Bahan pangan/makanan/minuman

3. Energi

4. Komunikasi dan teknologi informatika

5. Keuangan

6. Logistik

7. Perhotelan

8. Konstruksi

9. Industri strategis

10. Pelayanan dasar/utilitas publik/dan industri yang ditetapkan sebagai objek vital nasional dan objek tertentu

11. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari

 

Sementara untuk sektor-sektor usaha non-esensial, mereka perlu mendapatkan Izin Operasional Mobilitas dan Kegiatan Industri (IOMKI) dari Kementerian Perindustrian jika ingin tetap beroperasi. Selain itu, akan ada evaluasi untuk memastikan, pengendalian pergerakan kegiatan usaha maupun sosial berjalan dengan baik dan tidak menyebabkan penularan.

Aturan yang Harus Ditaati Perusahaan

Adapun beberapa aturan yang harus ditaati perusahaan-perusahaan yang diperbolehkan untuk tetap beroperasi antara lain:

 

Terapkan physical distancing

Perusahaan-perusahaan yang beroperasi diminta untuk tetap menerapkan physical distancing di tempat kerja. Ini berarti mengatur jarak meja dan kursi paling sedikit 1 meter antara satu karyawan dengan yang lain. Apabila ukuran ruangan di kantor tidak terlalu luas, maka perusahaan bisa menyiasatinya dengan memberlakukan shift untuk setiap karyawan sehingga jumlah karyawan yang masuk pada jam sama bisa dikurangi.

 

Kurangi aktivitas di luar kantor

Perusahaan jasa yang sering melakukan on-site meeting dengan klien diminta untuk mengurangi aktivitas ini dan beralih ke online meeting. Hal ini dikarenakan pertemuan langsung di luar kantor dinilai berisiko terhadap penularan virus. Salah satu perusahaan jasa yang menerapkan online meeting adalah HashMicro. 

Ricky Halim (HashMicro founder) menjelaskan bahwa perusahaannya telah mengurangi jadwal meeting di luar kantor dan menerapkan online meeting via Zoom semenjak bulan Maret lalu. Perusahaannya juga telah memberlakukan work from home (WFH) secara permanen semenjak PSBB fase pertama. Ini dilakukan sebagai upaya untuk melindungi karyawan dari penularan Covid-19. 

 

Patuhi protokol kesehatan

Apabila WFH sulit dilakukan lantaran perusahaan membutuhkan kehadiran  karyawan untuk menjalankan operasi bisnisnya (misalnya perusahaan konstruksi dan manufaktur, pusat perbelanjaan, klinik, restoran, hotel, dll.), maka wajib bagi perusahaan untuk memenuhi protokol kesehatan. 

 

Setiap area di tempat kerja harus dibersihkan dengan desinfektan secara berkala. Pemantauan  suhu tubuh karyawan dan pengunjung (pelanggan) juga harus dilakukan setiap hari. Perusahaan juga harus memastikan bahwa setiap orang di lingkungan kerja mengenakan masker setiap saat serta alat pelindung diri (APD) ketika diperlukan.

 

Beri perlindungan kepada karyawan

Pelaku usaha juga diminta untuk memprioritaskan kesehatan karyawan. Berdasarkan sektor usahanya, perusahaan diminta untuk memberikan perlindungan ekstra kepada pekerjanya. Perusahaan konstruksi misalnya, diwajibkan untuk penanggung jawab pelaksanaan pencegahan Covid-19 di area proyek. 

Perusahaan perlu lebih memperhatikan kesehatan karyawannya dengan mengecek suhu tubuh mereka secara rutin dan melarang karyawan yang kondisinya tidak fit untuk bekerja di kantor. Selain itu, karyawan yang lansia juga sebaiknya diizinkan untuk bekerja dari rumah. Perusahaan juga harus mempertimbangkan untuk menyediakan tes (rapid dan swab) gratis bagi setiap karyawannya untuk memastikan bahwa karyawannya tidak tertular virus.

Author
Penulis

kanya

Mungkin yang Anda suka
Jadilah orang pertama yang menuliskan komentar! Tulis komentar

Tinggalkan komentar

**) Dengan mengirim komentar ini artinya Anda setuju dan patuh dengan syarat dan ketentuan kami.